Kamis, 08 Juli 2010

Sastra

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah merupakan pemerintahan yang penuh dengan kegoncangan, terjadilah pertikaian politik yang hebat antara Dinasti Umayyah dengan musuh-musuhnya, pemberontakan terhadap penguasa mulai merajalela, pada periode ini pula mulai tumbuh dan berkembangnya dengan pesat beberapa firqoh dalam islam seperti syi’ah, khawarij, murjiah dan sebagainya, sehingga perkembangan sastra pada fase-fase tertentu periode ini cenderung diwarnai oleh nuansa politis dimana masing masing firqoh berlomba-lomba membuahkan produk sastra demi mendukung pemikiran mereka.

Khutbah

Khutbah Al-Batro’ Ziyad bin Abihi kepada Penduduk Bashroh

Pada tahun 45 H Terjadi kekacauan dan perselisihan yang hebat di Bashroh dibawah kepemimpinan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, melihat keadaan yang begitu parah Mu’awiyah mengangkat Ziyad bin Abihi sebagai gubernur Bashroh karena Ziyad memang terkenal dangan kekuatan, kepemimpinan serta kebijaksanaannya.

Ketika Ziyad mendatangi Bashroh ia pun mengumpulkan manusia untuk menyampaikan Khotbahnya yang terkenal dengan nama Al-Batro’. Dinamai dengan Al-Batro’ karena kedahsyatannya dan ketegasannya bagai pedang yang menyayat jiwa penduduk Bashroh.

Khutbah ini begitu menggentarkan penduduk Bashroh yang dikenal dengan kerusakan moral mereka saat itu, membuat nyali mereka ciut dan takut, Ziyad bin Abihi berkata yang diantaranya :

أيها النا س: إنا أصبحنا لكم ساسة , و عنكم ذادة , نسوسكم بسلطان الله الذي أعطانا, ونذود عنكم بفيء الله الذي خولنا, فلنا عليكم السمع و الطاعة فيما أحببنا, ولكم علينا العدل فيما ولينا, فاستوجبوا عدلنا و فيئنا بمناصتكم لنا, واعلموا أنني مهما قصرت فلن أقصر في ثلاث : لست محتجبا عن طالب حاجة ولو أتا ني طارقا بليل, ولا حابسا عطاء ولا رزقا عن إبانه, و لا مجمرا لكم بعثا, فادعوا الله بالصلاح لأئمتكم فإنهم ساستكم المؤدبون, وكهفكم الذي إليه تأوون, ومتى يصلحو تصلحوا

“Wahai sekalian manusia: sesungguhnya kami telah menjadi pemimpin kalian, dan sebagai pembela kalian, kami pimpin kalian dengan kekuasaan yang Allah berikan kepada kami, dan kami lindungi kalian dengan perlindungan Allah yang kami upayakan, maka wajib bagi kalian untuk dengar dan patuh terhadap apa yang kami perintahkan, dan wajib bagi kami untuk terus bersikap adil terhadap rakyat kami, maka balaslah keadilan yang kami berikan dengan nasihat kalian kepada kami, dan ketahuilah betapapun aku bahwa aku tidak akan meremehkan tiga perkara : aku tidak akan terhalang oleh siapapun diantara kalian yang memiliki keperluan denganku walau ia datang kepadaku ditengah malam gulita, dan akau tidak akan menghalangi kalian dari pemberian dan rizki yang menjadi hak kalian, dan aku tidak akan menahan pasukan perang di daerah perbatasan dalam waktu yang lama sehingga mereka bisa kembali kepada keluarganya, doakanlah kebaikan kepada pemimpin kalian, karena mereka adalah pengatur kehidupan kalian yang akan mendidik kalian, mereka adalah gua tempat kalian berteduh, apabila mereka baik maka kalian pun akan baik .”

Kitabah atau Surat

Surat Abdul Hamid Al-Katib kepada Para Penulis

Tulisan adalah petunjuk terhadap peradaban suatu bangsa dan perkembangan pemikiran mereka, ia adalah suatu bentuk seni yang memiliki dasar dan kaidah-kaidah, barang siapa yang ingin menjadi penulis islam yang baik maka ia hendaknya ia membaca dan memahami Al-Qur’anul Karim dan Hadist-hadist Rasulullah yang shohih, hendaknya pula ia membaca buku-buku sastra dan memperbaiki tulisannya serta menjaga diri dari segala perkara yang membawanya kepada kehinaan dan selalu bersemangat untuk menggapai keutamaan hidup. Hal tersebut telah dijelaskan oleh Abdurrahman Al-Katib dalam sebuah surat kepada para penulis dimasanya, ia berkata dalam tulisannya :

فتنافسوا يا معشر الكتاب في صنوف الآداب, وتفقهوا في الدين, وابدءوا بعلم كتاب الله -عز وجل- والفراءض والعربية ؛ ثم أجدوا الخط ؛ فإنه حلية كتابتكم, وارووا الأشعار , واعرفوا غريبها ومعانيها , وأيام العرب والعجم , وأحاديثها وسيرها, فإن ذلك معين لكم على ما تسموإليه هممكم, وتحابوا في الله – عز وجل- في صناعتكم, وتواصوا عليها بالذي هو أليق لأهل الفضل و العدل و النبل من سلفكم

“Berlombalah kalian wahai para penulis dalam menghasilkan karya sastra, pelajarilah ilmu agama kalian, mulailah dengan ilmu Kitabullah beserta ilmu warisnya dan kaidah-kaidah bahasa arab, karena ia adalah pengasah lisan kalian, kemudian perindahlah tulisan tangan kalian karena ia adalah perhiasan bagi karya kalian, riwayatkanlah syair-syair dan serta pahamilah kata-kata asing dan maknanya, pelajarilah sejarah bangsa arab dan bangsa-bangsa selainnya, kesusastraan serta sejarah mereka, karena sesungguhnya itu akan membantu kalian dalam menggapai impian, saling berkasih sayanglah karena Allah dalam berkarya wahai para penulis, saling menasehatilah kalian dengan hal-hal yang telah dilakukan oleh para pemilik keutamaan, keadilan serta kemuliaan diantara pendahulu kalian.”

Syair

Pujian dan Permohonan Jarir bin Utaibah kepada Umar bin Abdul Aziz

Beberapa penyair pada periode ini memiliki kebiasaan memuji Khalifah untuk memperoleh hadiah dari mereka, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah para penyair mendatanginya dan berdiri didepan pintu istananya menunggu izin untuk masuk, diantara mereka yang terpilih adalah Jarir bin Qutaibah dari Yamamah yang sedang dilanda kekeringan, ketika Jarir berdiri dihadapan Umar bin Abdul Aziz, Umar berkata kepadanya (( Bertakwalah kepada Allah wahai Jarir, jangan kau katakan sesuatu kecuali kebenaran )). Kemudian Jarir pun melantunkan syairnya mengadukan keadaan kaumnya yang sedang dilanda kekeringan panjang.

Diantaranya ia berkata :

كــم بـالـيمـامـة شعـثـاء أرمـلة وكم من يتيم ضعيف الصوت والبصر

مـمـن يـعــدك تكفي فـقـد ولـده كالفرخ في العش لم ينهـض ولـم يـطر

خـليفــة الله مـاذا تـأمرون بـنـا لــسـنـا إلـيــكـم ولا فــي دار مـنـتـظـر

أنت المـبارك والمهدي سـيرته تعصي الهـوى وتـقوم اللـيل بـالـسـور

أصبحت للمنبر المعمور مجلسه زيـنـا وزيـن قــبا ب المـلـك والـحجــر

فلن تزال لهذا الدين ما عمروا مـنـكـم عمـارة مـلـك واضــح الغـرر

إنا لنرجو إذا مـا الغيث أخلفـنا مــن الخــليـفـة مــا نـرجـو من المطـر

هذه الأرامل قد قضيت حاجتها فـمـن لـحاجــة هـــذا الأرمــل الـــذكر؟

Betapa banyak janda-janda tua di Yamamah

Juga anak-anak yatim yang telah lemah suara dan tatapan mereka

Cukuplah kematian ayah dari anak-anak yang sering menyebut kebaikanmu itu

Bagai anak burung dalam sangkarnya, tak mampu berdiri apalagi terbang

Wahai Khalifah Allah, apa yang kau perintahkan kepada kami..

Tidaklah kami pergi menemuimu melainkan dari tempat yang jauh

Kau adalah sosok dengan kisah hidup yang penuh barokah dan hidayah

Kau maksiati hawa nafsumu dan berdiri ditengah malam melantunkan Ayat-ayat Allah

Kau bagaikan perhiasan yang menghiasi mimbar para raja

Dan menghiasi kubah-kubah dan bilik istana

Tetaplah kau jaga agama ini sepanjang hayatmu wahai Khalifah

Sebagaimana orang sebelummu menjaganya dengan penuh cahaya

Sesungguhnya yang kami inginkan bila hujan tak kunjung datang

Hanyalah pemberian yang kan kau hujankan kepada kami

Itulah permohonan mereka para janda wanita itu

Maka apa yang akan engkau berikan kepada duda yang berdiri dihadapanmu ini ?

Pada periode ini juga tercatat nama-nama penyair handal lainnya seperti Al-Ahthol dan Farazdaq. Salah satu bait Farazdaq yang terkenal seperti :

ما قال لا قطُ إلاّ في تشهُّدِهِ ***** لولا التشهُّدُ كانت لاؤُهُ نَعَمُ


sumber : http://ichsanmufti.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar