Jumat, 29 Oktober 2010

SASTRA


Perkembangan puisi pada masa ini, secara bertahap, mendapat pengaruh dari Eropa Baru, meskipun perubahannya mendapat tantangan dari para tradisionalis yang ingin tetap menjaga tradisi klasik, yaitu adanya monoritme dalam puisi Arab. Seperti genre sastra lainnya, puisi pada masa ini dimulai dengan ekspresi-ekspresi mengenai politik, sosial, dan budaya. Secara umum gambaran puisi Arab sampai tahun 1920 baik dari segi bentuk maupun bahasanya masih menggunakan bentuk dan bahasa lama (klasik), sementara mengenai temanya, masih ada yang menggunakan tema lama, tapi diadaptasi dengan suasana yang baru, dan ada juga tema-tema yang baru, seperti tema nasionalisme. Tema nasionalisme ini kadang-kadang menyuarakan tentang Pan Arabisme dan Pan Islamisme.

Pada masa modern, perkembangan puisi Arab dapat dibedakan menjadi tiga aliran, meskipun waktunya tidak dapat ditentukan secara jelas, yaitu:

1. Aliran al-Muhafidzun, yaitu aliran yang masih memelihara kaidah puisi Arab secara kuat, misalnya keharusan menggunakan wazan (pola) dan qafiyah (rima), jumlah katanya sangat banyak, uslub-nya kuat (gaya atau cara seseorang mengungkapkan dirinya dalam tulisan), tema-temanya masih mengikuti tema-tema masa sebelumnya, seperti madah (pujian-pujian), ritsa (ratapan), ghazal (percintaan), fakhr (membanggakan diri atau kelompok), dan adanya perpindahan dari satu topik ke topik yang lain dalam satu qasidah (ode). Para sastrawan atau penyair yang masuk ke dalam kategori aliran ini di antaranya adalah Mahmud Sami al-Barudi, Ahmad Syauqi, Hafidz Ibrahim, dan Ma'ruf ar-Rusafi.

2. Aliran al-Mujaddidun, yaitu aliran yang muncul karena adanya peruba han situasi politik, sosial, dan pemikiran, adanya keinginan untuk lepas dari hal-hal yang berbau tradisional, adanya pengaruh aliran romantik dari sastrawan-sastrawan Barat, adanya penelitian-penelitian modern tentang jiwa, yang menjadikan sastra, khususnya puisi sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan jiwa dan realita dalam masyarakat. Di antara para sastrawan yang masuk ke dalam aliran ini adalah Khalil Mutran, Abbas al-Aqqad, Abdurrahman Syukri, Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini, al-Tijani Yusuf Basyir, Abu al-Qasim asy-Syabiy, dan tahir Zamakhsari.

Dalam aliran ini terdapat adanya pembaharuan dalam topiknya, khususnya dalam hal yang menyangkut tentang masyarakat dan kehidupan, serta kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Adanya pembaharuan dalam deskripsi dan majaz-nya, adanya pengaruh aliran simbolis dalam kesusastraan Arab, di mana para sastrawan atau penyair menggunakan simbol-simbol sebagai sarana pengungkapan perasaan dan pikiran mereka.

3. Aliran al-Mughaaliinu, yaitu aliran yang mengikuti aliran sastra yang ada di Eropa setelah Perang Dunia I. Karena itulah, aliran ini sangat terikat pada situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, serta pemikiran yang ada pada masyarakat Eropa. Di dunia Arab, pengaruh ini tidak hanya terdapat dalam satu masa saja, tetapi juga berlanjut dari satu masa ke masa sesudahnya. Ciri-ciri aliran ini adalah tidak vokal, tapi menggunakan cara-cara yang pelan-pelan, didominasi oleh deskripsi, tapi ide dan deskripsinya terkadang tidak jelas. Di antara sastrawan yang termasuk dalam aliran ini adalah Ibrahim Naji, Badr Syakir Sayyab, Muhammad Mishbah al-Fituri, Mahmud Darwisy, dan Abdul Wahab al-Bayati.

Selain itu, pengaruh Barat terhadap kesusastraan Arab modern tidak dapat dibuang begitu saja. Berbagai aliran sastra seperti Romantisme, Realisme, Surealisme, Simbolisme, Analisis Lirik, Eksistesialisme, Ekspresionalisme, dan Regionalisme telah begitu berpengaruh dalam kesusastraan Arab modern dalam tingkat yang berbeda. Pengaruh ini tidak saja dalam subyek dan isinya, tapi juga dalam bentuk dan gayanya. Dalam puisi Arab modern, pengaruh ini terlihat dengan sangat jelas. Adanya puisi-puisi tidak bersajak atau puisi bebas yang digunakan secara luas dalam puisi-puisi Arab, tidak dapat disangkal lagi merupakan pengaruh dari Barat. Romantisme, puisi tak bersajak dan puisi bebas ini secara luas telah berpengaruh dan berkembang dalam kesusastraan Arab.

Pada masa modern, qasidah (ode) yang monoritme masih terus ditulis, tetapi lebih sedikit dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Puisi bebas yang menjadi lebih populer, dengan panjang yang bervariasi dan rima yang tidak mengikuti pola tertentu. Larik-lariknya semakin pendek, hingga ada yang hanya menggunakan dua atau tiga suku kata.

Dari segi tema, puisi Arab modern dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Tema-tema lama yang masih dipakai.

Tema-tema tersebut antara lain: Wasf (deskripsi); kalau pada masa-masa sebelumnya, tema ini hanya merupakan tema tambahan pada tema-tema lain, seperti pada puisi ritsa (ratapan) atau madah (pujian), pada masa modern, tema ini tampaknya lebih banyak berdiri sendiri. Fakhr (membanggakan diri); pada masa-masa sebelumnya tema seperti ini digunakan untuk menyebut-nyebut keagungan, kemulian atau kedudukan suatu suku, pada masa modern, tema ini masih tetap digunakan dalam ruang lingkup yang lebih luas, yaitu untuk melahirkan keagungan suatu bangsa yang bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan suatu bangsa dalam melawan penjajahan asing. Madah (puji-pujian); pada masa moden tema seperti ini masih mendapat tempat yang luas. Tema ini juga ditujukan kepada para pejuang kemerdekaan dan kebangsaan. Religius; tema puisi seperti pada masa modern masih tetap dipertahankan dan digunakan, yang berisi pujian-pujian terhadap Rasulullah Saw dalam bentuk yang beragam.

2. Tema-tema yang mengalami sedikit perubahan

Tema-tema tersebut antara lain: Naqa'id (kritikan); pada masa-masa sebelumnya tema ini hanya dipakai dalam ruang lingkup pribadi, misalnya menyangkut masalah kehormatan pribadi, tetapi pada masa modern, tema seperti ini ruang lingkupnya menjadi berubah, lebih banyak ditujukan kepada persoalan orang banyak, bahkan kepada persoalan negara. Kepahlawanan; seperti halnya tema kritikan, tema kepahlawanan yang dulu hanya digunakan untuk menggambarkan kemegahan diri atau suku. Pada masa ini, tema ini banyak digunakan untuk mengagungkan sebuah bangsa atau umat. Ritsa (ratapan); tema ini juga mengalami perubahan, kalau dahulu ratapan digunakan untuk meratapi kematian seseorang, pada masa modern, tema ini digunakan untuk meratapi para pejuang yang telah tewas di medan perang, para pemimpin bangsa yang telah meninggal, bahkan untuk meratapi bangsa atau negara yang telah hancur. Ghazal (cinta); tema merupakan tema universal yang ada pada setiap masa. Hanya saja, kalau dahulu tema ini lebih banyak menggambarkan masalah kecantikan fisik wanita, sedangkan pada masa modern, sesuai dengan semakin meningkatnya rasa cita masyarakat akibat majunya zaman, tema ini lebih terfokus pada nyanyian-nyanyian cinta yang melukiskan gelora perasaan jiwa.

3. Tema-tema yang baru muncul pada masa modern

Tema-tema yang muncul pada perkembangan puisi Arab modern, antara lain: Patriotik; tema yang berisi tentang rasa cinta dan kasih pada negara, tema tentang kebebasan, kemerdekaan, dan persatuan. Tema ini bertujuan untuk membakar semangat rakyat, mencetuskan rasa cinta kepada tanah air dan berkorban segala-galanya untuk negara. Kemasyarakatan; tema jenis ini mucul sesuai dengan kondisi masyarakat pada waktu itu yang baru saja melepaskan diri dari cengkeraman penjajah, masalah kemiskinan, buta huruf, anak yatim, anak terlantar, dan kaum wanita, menjadi masalah yang tidak dapat diabaikan. Masalah ini pula yang menjadi sorotan para penyair pada masa modern ini. Kejiwaan; tema ini biasa ditulis oleh para penyair yang pengetahuannya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Barat dan para penyair yang tinggal diperantauan. Isi puisi dari tema ini adalah tentang rintihan dan keluhan jiwa, penderitaan dan kesengsaraan, harapan, dan cita-cita. Puisi drama; bentuk ini merupakan sebuah tema baru yang juga dianggap sebagai sebuah genre baru dalam kesusastraan Arab. Bentuk ini merupakan drama yang dibuat secara puitis.

Sementara itu, dilihat dari segi bentuknya, terdapat para penyair yang masih tetap menggunakan metrum secara keseluruhan, ada penyair yang menggunakan bentuk puisi Andalusia, yaitu Muwashshah, dan ada pula yang menggunakan bentuk bebas, tanpa terikat pada metrum.

Penyair-penyair Mesir yang populer pada masa ini adalah Abbas al-Aqqad, Ibrahim al-Mazini, dan Abdurahman Syukri, yang dikenal pada tahun 1920-1930-an dengan nama "Kelompok Diwan". Kemudian, Ahmad Zaki Abu Shadi (1892-1955) yang dikenal sebagai tokoh aliran Romantik.

Para penyair Irak pada abad 20 banyak mengungkapkan tema kemerdekaan, yaitu merdeka dari Turki dan Inggris. Di antara para penyair Irak pada masa ini adalah Ma'ruf Rusafi (1875-1945), Muhamad Sa'id al-Habubi (w. 1916), Jamil Sidqi al-Zahawi (1863-1936), dan Abdul Muhsin al-Kazimi (1870-1938).

Selain di Mesir dan Irak, pada tahun 1948, telah berdiri sebuah negara baru, yaitu negara Zionis Israel, di jantung negara Arab dan dunia Islam, Palestina. Dengan berdirinya negara zionis tersebut, muncullah tema tentang pertikaian antara orang-orang Arab dan Israel dalam wacana kesusastraan Arab modern. Puisi yang bertemakan konflik antara Arab-Israel disebut dengan asy-Syi'r al-Muqawamah (puisi perlawanan). Di antara para penyair yang menuliskan tema puisi ini adalah Ibrahim Tuqan (1905-1941) dan Abdurrahman Mahmud (1913-1948). Di samping itu, terdapat para penyair wanita, seperti An-Nisa Dananir, Salma Khadra al-Jayusi, dan Fadwa Tuqan yang menulis beberapa buku dan beratus-ratus puisi yang berisi tentang perjuangan bangsa Palestina.

2 komentar:

  1. Mohon izin untuk mempublikasikan artikel ini di blog saya...
    http://nidafadlan.wordpress.com/2011/04/20/puisi-arab-pada-masa-modern/

    Salam

    BalasHapus
  2. salam,, terima kasih ats perkongsian,,tp sy ingin ader tak tntg keaadan عصر الحديث dr segi kemasyaratannya,politik,ekonomi n seterusnya,, sbb sy nak sgt tau mgenAI ni,,

    BalasHapus